Masalah Da'i atau Penceramah yang Cari Popularitas

ceramah dakwah islam
Bagaimana hukumnya jika ada da'i atau penceramah agama, hanya mau ceramah jika dibayar tinggi atau punya niat lain? Benarkah banyak penceramah (da’i) yang hanya mencari popularitas?

JAWAB: Kita berprasangka baik (husnuzhan) saja. Para penceramah tentunya melaksanakan dakwah Islam secara ikhlas karena Allah, demi syiar Islam.

Jika memang ada yang mau ceramah jika dibayar tinggi, artinya ia punya motivasi lain. Biarlah itu urusan yang bersangkutan dengan Allah SWT.

Demikian pula jika ada da’i yang mencari popularitas, itu urusannya dengan Allah SWT. Yang jelas, dakwah adalah kewajiban semua Muslim, terutama Muslim yang dianugerahi pemahaman ilmu agama oleh Allah SWT.

Hamdun bin Ahmad pernah ditanya: Mengapa ucapan-ucapan para salaf (generasi ulama terdahulu) lebih bermanfaat daripada ucapan-ucapan kita? Beliau menjawab: Karena mereka berbicara untuk kemuliaan Islam, keselamatan jiwa, dan mencari ridha Ar-Rahman (Allah SWT), sementara kita berbicara untuk kemuliaan diri, mengejar dunia, dan mencari ridha  manusia!

Ulama generasi salaf berdakwah, memberi nasihat, atau ceramah agama dengan ikhlas, tanpa bayaran, tanpa memasang tarif. Dampaknya, nasihat mereka efektif, berdampak, dan diingat hingga generasi Islam masa kini.

Dengan demikian , jila ada ulama, da’i, penceramah, dan umumnya umat Islam masa kini, yang memberi nasihat agama (ceramah) secara tidak ikhlas, ada niat demi kemuliaan diri, mengejar dunia, dan mencari ridha manusia, atau “karena dibayar”, tidak berdampak dan takkan mampu mengubah akhlak masyarakat.

Al-Imam Ibnu Rajab menjelaskan, orang yang menampakkan ucapan dan perbuatannya kepada manusia perbuatan yang baik, tetapi ia mempunyai maksud mencapai tujuan yang buruk, lalu dipuji oleh manusia disebabkan perbuatan baik yang ia tampakkan padahal mempunyai tujuan yang buruk, lalu dia gembira dengan pujian manusia, maka orang tersebut diancam oleh Allah Ta’ala dengan adzab yang sangat pedih.

“Janganlah kamu sekali-kali menyangka bahwa orang-orang yang gembira dengan apa yang telah mereka kerjakan dan mereka suka supaya dipuji terhadap perbuatan yang belum mereka kerjakan, janganlah kamu menyangka bahwa mereka terlepas dari siksa, dan bagi mereka siksa yang pedih.” [QS. Ali Imran:188]. Wallahu a’lam bish-shawabi.*

Niat Baik Itu Berpahala

menanam kebaikan
PUNYA niat berbuat baik? Misalnya, menolong sesama yang sedang susah, sedekah, atau amal baik lainnya? Insya Allah, niat baik itu sudah dicatat oleh Allah sebagai sebuah kebaikan.

Niat baik itu berpahala, meski tidak jadi dilaksanakan. Pahala kebaikan itu akan dilipatgandakan menjadi 10 kali lipat jika niat baik itu benar-benar dilaksanakan.

"Allah mencatat kebaikan dan  keburukan kemudian menjelaskannya.  Barangsiapa ber-himmah (niat) amal kebaikan dan kemudian tidak mengerjakannya, maka Allah mencatat baginya kebaikan yang sempurna. Apabila ia berniat kebaikan dan mengerjakannya, Allah membalasnya 10 kebaikan sampai 700 kali lipat lebih banyak.  Dan apabila berniat keburukan kemudian tidak mengerjakannya, Allah mencatatnya kebaikan yang sempurna.  Dan apabila berniat buruk dan mengerjakannya, Allah mencatat dengan satu keburukan" (HR.  Bukhari dan Muslim).

Masya Allah.... Betapa Maha Kasih Allah SWT. Niat saja sudah dibalas kebaikan (pahala). Maka, mari kita senantiasa berbuat baik agar hidup ini berkah.

Makna kebaikan sangat luas. Dalam Islam  disebut amal saleh, al-birru, dan ihsan, yang merujuk pada kewajiban sebagai Muslim, seperti shalat, zakat, puasa, haji, menolong sesama, menuntut ilmu, membaca Al-Quran, dzikir, berdoa, hingga tersenyum kepada sesama dan menyingkirkan duri di tengah jalan.

Pahala dari Allah SWT dapat berbentuk nikmat, ketenangan jiwa, rezeki, terhindari dari bahaya, teratasinya masalah, jalan keluar dari sebuah kesulitan, dan di akhirat pahala itu berupa terhindar dari neraka alias masuk surga.

Mari senantiasa berusaha menanam kebaikan agar menuai kebaikan pula. Semoga Allah SWT senantiasa memberi kita hidahay agar kita selalu berniat baik dan bertekad serta benar-benar melaksanakan kebaikan. Amin....! Wallahu a’lam.*

Delapan Perhiasan Amal yang Wajib Dipelihara

PERHIASAN adalah sesuatu yang menyenangkan. Dalam amal kebaikan juga perhiasan yang tidak boleh lepas, bukan saja agar amal itu indah, tapi juga diterima oleh Allah SWT sebagai amal kebaikan. Setidaknya ada delapan perhiasan amal yang wajib ada dalam setiap amal kebaikan.

Kedelaan perhiasan amal ini dikemukakan Abu Bakar Ash-Shiddiq r.a., sahabat terdekat Nabi Saw dan pembela terkemuka dakwah risalah Islam.

Abu Bakar berkata, ada delapan perkara yang merupakan perhiasan bagi delapan perkara yang lain, yaitu:
  1. Memelihara diri dari meminta-minta merupakan perhiasan bagi kefakiran.
  2. Bersyukur kepada Allah SWT merupakan perhiasan bagi nikmat yang telah diberikan-Nya.
  3. Sabar adalah perhiasan bagi musibah.
  4. Tawadhu adalah perhiasan bagi (kemuliaan) nasab (keturunan).
  5. Santun adalah perhiasan bagi ilmu.
  6. Rendah hati adalah perhiasan bagi seorang pelajar.
  7. Tidak menyebut-nyebut pemberian merupakan perhiasan bagi kebaikan.
  8. Khusyu' adalah perhiasan bagi shalat.
Rasulullah Saw bersabda: "Kasihanilah pemuka suatu kaum yang telah menjadi hina. Kasihanilah orang kaya yang jatuh miskin. Kasihanilah orang 'alim yang tersia-sia di antara orang-orang yang tidak berpengetahuan."

"Barangsiapa keluar rumah dengan tujuan mencari ilmu, maka Allah akan membukakan pintu surga baginya; para malaikat akan memberi keteduhan dengan membentangkan sayapnya baginya; dan para malaikat yang ada di langit dan ikon-ikon yang ada di lautan memohon ampunan dan rahmat untuknya." (HR. Abu Ya'la). (Sumber: Nashaihul Ibad - Imam Nawawi Al Bantani).

Semoga kita bisa memelihara kehormatan diri dan keluarga dari kefakiran. Semoga Allah menghindarkan diri kita dari kefakiran (kemiskinan) dan menjadi peminta-minta.

Semoha kita mampu senantiasa bersyukur saat menerima nikmat, sabar dalam menghadapi musibah, tawadhu ketika ditakdirkan masuk keturunan terpandang, santun ketika berilmu, rendah hati ketika belajar, tidak mengungkap sedekah, dan khusyu' tiap kali shalat. Amin...! Wallahu a'lam.*

Sulitnya Memberantas Bid'ah di Kalangan Umat Islam

Memberantas amal perbuatan bid'ah di kalangan umat Islam sangatlah sulit. Bahkan, lebih sulit daripada menghapus kemaksiatan. Masalahnya, pelaku bid'ah (ahlul bid'ah) merasa yang dilakukannya baik dan benar, dan selalu punya argumen (alasan) untuk membenarkan amalan bid'ahnya.

Alasan yang paling sering dikemukakan oleh ahli bid'ah adalah bahwa amalannya termasuk BID'AH HASANAH, bid'ah yang baik. Padahal, sudah jelas sabda Nabi Saw bahwa "SELURUH BID'AH ITU SESAT".

“Hati-hatilah dengan perkara yang diada-adakan karena setiap perkara yang diada-adakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat.” (HR. Abu Daud no. 4607 dan Tirmidzi no. 2676).

Seorang ulama besar dalam madzhab Syafi’i berkata mengenai maksud bid’ah itu sesat, “Yang dimaksud setiap bid’ah itu sesat adalah setiap amalan yang dibuat-buat dan tidak ada dalil pendukung baik dalil khusus atau umum” (Fathul Bari, 13: 254).

Ibnu Rajab dari madzhab Hambali juga mengatakan, “Setiap yang dibuat-buat lalu disandarkan pada agama dan tidak memiliki dasar dalam Islam, itu termasuk kesesatan. Islam berlepas diri dari ajaran seperti itu termasuk dalam hal i’tiqod (keyakinan), amalan, perkataan yang lahir dan batin” (Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, 2: 128).

Ahli Bid'ah Merasa Benar, Balik Menuding

Tidak mungkin rasanya kita bisa mengubah sikap orang yang merasa benar, kecuali atas bantuan hidayah Allah SWT.

Ketika kita mengatakan bahwa suatu amalan itu bid'ah, maka para ahli bid'ah akan melakukan "serangan balik" dengan mengatakan bahwa kita adalah Salafi, Wahabi, atau apalah. Salafi-Wahabi bahkan dimusuhi oleh para ahli bid'ah. Padahal, mereka tidak paham apa itu Salafi dan Wahabi.

Bahkan ketika kita menjelaskan apa sebanrnya Salafi-Wahabi, para ahli bid'ah pun masih saja "melawan", misalnya dengan mengatakan bahwa kita termasuk kelompok Salafi-Wahabi. Masya Allah....!

Para ahli bid'ah lupa, agama Allah SWT ini (Islam) sudah sempurna. Pelaku bid'ah bisa dikatakan mengingkari ayat tentang kesempurnaan Islam ini, karena mereka masih saja membuat amalan baru yang tidak dicontohkan Rasulullah Saw dan para sahabat.

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni’mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu” (QS. Al-Maidah:3).

Semoga kita semua mendapatkan hidayah dari Allah Swt agar senantiasa beramal ibadah sesuai dengan sunah Rasul sehingga diterima sebagai amal ibadah. Soalnya, amalan bid'ah jelas ditolak oleh Allah SWT.

Soal perkara bid'ah, tugas kita HANYALAH MENYAMPAIKAN, tabligh. Bukan urusan kita apakah yang kita sampaikan itu diterima atau tidak, karena HIDAYAH ITU URUSAN ALLAH SWT saja. Wallahu a'lam bish-showaabi.*