Sifat-Sifat Pemimpin yang Baik Menurut Islam


" السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ "

   Sebagaimana yang kita ketahui, bahwasanya manusia oleh Allah SWT diberi kelebihan. Kelebihan tersebut salah satunya ialah manusia diberi amanat untuk menjadi pemimpin di bumi. Sebagaimana yang dijelaskan dalam Al Quran Surat Al Baqarah ayat 30 :


وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً ۖ قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۖ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ


Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi". Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui". (QS Al Baqarah 30)

 Sifat-Sifat Pemimpin yang Baik Menurut Islam

   Namun ada juga yang masih bertanya-tanya mengenai sifat-sifat pemimpin yang baik menurut islam.

   Sifat-sifat pemimpin yang baik menurut islam memang sangatlah beragam, namun pastinya terdapat pokok penting yang mempelopori. Pokok-pokok penting tersebut antara lain :

  1. Beriman, dengan pelaksanaan hati, lisan dan perbuatan
  2. Bertaqwa, karena dengan taqwa  akan menjaga dirinya dari perbuatan tercela
  3. Mempunyai kemampuan, baik berupa ilmu, praktek dan kemampuan fisiknya, sesuai dengan macam kepemimpinanya
  4. Adil, dengan keadilanya ia tidak akan berbuat zalim
  5. Jujur, dengan kejujuranya ia akan melaksanakan amanat dengan baik.

Itulah pokok-pokoknya, dan andai saja direntangkan maka akan sangat banyak sekali.

Demikianlah "Sifat-Sifat Pemimpin yang Baik Menurut Islam" Semoga bermanfaat bagi kita seorang muslim. Aaamiiin

" وَ السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ"

Hukum Memalsukan Ijazah & Pengalaman Kerja

palsu bohong
Hukum Memalsukan Ijazah & Pengalaman Kerja. Apa Uang Gajinya Juga Haram?

TANYA: Apa hukumnya memalsukan ijazah dan pengalaman kerja agar dapat diterima bekerja? Lalu bagaimana kalau diterima bekerja, apa uang gajinya haram, walaupun sering bersedekah dan berkurban setiap Idul Adha, apa solusinya harus keluar kerja?

JAWAB: Pemalsuan merupakan kejahatan, baik dalam perspektif hukum postif KUHP maupun dalam hukum Islam.

Pemalsuan termasuk kategori berbohong yang dilarang Islam. Seorang Muslim diharuskan berlaku jujur (shidiq) dalam setiap urusannya.

"Kalian harus berlaku jujur karena kejujuran itu akan membimbing kepada kebaikan. Dan kebaikan itu akan membimbing ke surga. Seseorang yang senantiasa berlaku jujur dan memelihara kejujuran, maka ia akan dicatat sebagai orang yang jujur di sisi Allah. Dan hindarilah dusta, karena kedustaan itu akan menggiring kepada kejahatan dan kejahatan itu akan menjerumuskan ke neraka. Seseorang yang senantiasa berdusta dan memelihara kedustaan, maka ia akan dicatat sebagai pendusta di sisi Allah” (HR. Muslim).

"Dan barangsiapa menipu kami, maka dia bukan golongan kami" (Imam Bukhari).

Ijazah  Ijazah palsu biasanya didapatkan dengan uang suap. Dosanya bertambah dengan dosa suap. (Baca juga: Hukum Masuk Kerja dengan Uang Suap).

Gaji dari pekerjaan yang didapatkan secara haram hukumnya haram juga. Solusinya bukan keluar kerja, tapi mengaku berterus-terang, minta maaf kepada pihak perusahaan/lembaga, lalu bertobat.

Risikonya memang berat, tapi itulah risiko sebuah pemalsuan, karenanya Islam melarang umatnya melakukan pemalsuan. Wallahu a’lam bish-shawabi. (http://inilahrisalahislam.blogspot.com).*